Pin mapping board ESP8266

Board ESP8266 yang ada dipasaran membawa standar penamaan sendiri-sendiri, berikut tabel persamaannya:

Generik Alias Keterangan D1 D1 mini Espectro Inven tone Node MCU Oak Wifi slot Wifi duino Wifinfo Wifio
0 boot high, pull-up D8 D3 D2 D3 P2 PIN_A1 D3 D3 E0
1 TX boot high D1 TX TX/TX0 TX D10 P4 D1/TX D10 E1
2 TX1 boot high, pull-up D9 D4 TX1 D4 D4 P0 D2 D4 E2
3 RX boot high D0 RX RX/RX0 RX D9 P3 PIN_A0 D0/RX D9 E3
4 SDA D4/D14 D2 D6 D2 P5 PIN_A6 D4 D2 E4
5 SCL D3/D15 D1 D5 D1 P1 PIN_A4 D5 D1 E5
12 MISO D6/D12 D6 D8 D6 P8 PIN_A7 D8/D12 D6 E12
13 MOSI D7/D11 D7 D7 D7 P7 PIN_A3 D9/D11 D7 E13
14 SCK D5/D13 D5 D3 D5 P9 PIN_A5 D7/D13 D5 E14
15 SS boot low, pull-down, no pull-up D10 D8 D1 D8 P6 D10 D8 E15
16 no interrupt, no pull-up D2 D0 D9 D0 P10 PIN_A2 D6 D0 E16

Sedangkan aksesoris seperti LED dan button terpasa seperti tabel berikut:

Board LED Button
Adafruit 0
Arduino SPI 2
Arduino UART 14
D1 2
D1 mini 2
ESP8285 1
Espectro 15 0/2
Espino 2/4/5 0
Espinotee 16
Espresso lite v1 16
Espresso lite v2 2
Inventone 2
Modwifi 1
NodeMCU 16
Oak 5
phoenix v1 16
phoenix v2 2
Thing 5
Wifi slot 2
Wifiduino 2
Wifinfo 12
Wifio 2
Wiolink 2
Xinabox 5/12/13

Putar musik .wav dari kartu memori SDCard dengan arduino

jenis file suara menurut sistem kompres data-nya terdiri atas file suara terkompresi dan file suara tidak dikompresi (compressed/uncompresses), yaitu metode penyimpanan data suara digital yang bertujuan memperkecil ukuran file suara dan dengan penurunan kualitas suara sekecil-kecilnya.

File suara tidak dikompres memiliki keunggulan kualitas yang asli selain itu tidak memerlukan proses dekompresi yang rumit untuk mengambil/memutar-nya menjadi suara.

WAV (waveform audio file format) adalah contoh file suara yang tidak dikompres. karena masih menyimpan data aslinya jenis file ini memiliki ukuran yang besar. tidak seperti file suara terkompresi seperti .mp3, .aac, .ogg, .wma yang mmembutuhkan algoritma/codec untuk membuka datanya, .wav bisa langsung digunakan. sehingga .wav sangat cocok untuk perangkat mikrokontroller seperti arduino yang memiliki kecepatan dan memory yang kecil.

play .wav dengan arduino

file wav disimpan dan di ambil data-nya dengan metode PCM (pulse code modulation). file wav memiliki struktur header 44 byte yang berisi informasi jum;ah channel (mono/stereo), sample rate, bit per sampel dan informasi lainnya.

Khusus penggunaan arduino untuk memutarĀ  file .wav dengan kecepatan 16MHz hanya efektif di sample rate 32.000, 16.000, 8.000 dengan kanal mono dan 8 bit per sampel.

Skema memutar file suara .wav menggunakan arduino dari microSD

Rangkaian speaker bukan stereo (tapi unbalanced audio connection)

(seandainya menggunakan ampli) jangan hubungkan ground arduino dan ground ampli jika keluaran suara ke speaker menggunakan 2 kabel pin 9 dan 10 (gunakan salah satu saja jika ground terhubung)

koding memainkan suara dari kartu memori berbasis arduino:


#define pinSpeakerA     9
#define pinSpeakerB     10

#define pinCS           8
#define faktorKali      2

#include <SD.h>
#include <SPI.h>


bool suaraDimainkan;
uint32_t sampleCounter;
byte ulangPerSampel;
byte ulang;

struct  HeaderWAV
{
  char                RIFF[4];
  unsigned long       ChunkSize;
  char                WAVE[4];
  char                fmt[4];
  unsigned long       Subchunk1Size;
  unsigned short      AudioFormat;
  unsigned short      NumOfChan;
  unsigned long       SamplesPerSec;
  unsigned long       bytesPerSec;
  unsigned short      blockAlign;
  unsigned short      bitsPerSample;
  char                Subchunk2ID[4];
  unsigned long       Subchunk2Size;

};

HeaderWAV headerWAV;
File fileSuara;


void setup(void)
{
  pinMode(pinSpeakerA, OUTPUT);
  pinMode(pinSpeakerB, OUTPUT);

  Serial.begin(9600);
  Serial.println("Memutar file suara .wav pada kartu memory SDCard dengan arduino");
  Serial.println("https://www.project.semesin.com/");

  if (!SD.begin(pinCS))
  {
    Serial.println("SD fail");
    return;
  }
}

void loop(void)
{
  if (!suaraDimainkan)
  {
    mainkanSuara("pulang.wav");
  }
  else
  {
    lanjutkanSuara();
  }
}

void mainkanSuara(char *namaFile)
{
  fileSuara = SD.open(namaFile);
  if ( !fileSuara )
  {
    Serial.println("File suara tidak ditemukan");
    return 0;
  }

  byte *alamat = (byte*)&headerWAV;
  for (byte i = 0; i < sizeof(headerWAV); i++)
  {
    byte data = fileSuara.read();
    *alamat++ = data;
  }
  Serial.print("namaFile=");
  Serial.println(namaFile);
  Serial.print("headerWAV.SamplesPerSec=");
  Serial.println(headerWAV.SamplesPerSec);
  Serial.print("headerWAV.NumOfChan=");
  Serial.println(headerWAV.NumOfChan);
  Serial.print("headerWAV.bitsPerSample=");
  Serial.println(headerWAV.bitsPerSample);
  Serial.print("headerWAV.Subchunk2Size=");
  Serial.println(headerWAV.Subchunk2Size);

  ulangPerSampel = 32000L / headerWAV.SamplesPerSec;
  ICR1 = 256;
  TCCR1A = _BV(COM1A1) | _BV(COM1B1) | _BV(WGM11);
  TCCR1B = _BV(WGM13) | _BV(WGM12) | _BV(CS10);

  sampleCounter = 0;
  ulang = 0;
  suaraDimainkan = true;
}

void lanjutkanSuara()
{
  if (TIFR1 & _BV(TOV1))
  {
    TIFR1 |= _BV(TOV1);
    if (!(ulang++ % ulangPerSampel))
    {
      if (sampleCounter++ >= headerWAV.Subchunk2Size)
      {
        Serial.println("Selesai");
        stopPlayback();
      }
      else
      {
        byte data = fileSuara.read();

        uint16_t sample = data;
        OCR1B = 256 - sample;
        OCR1A = sample;
      }
    }
  }
}


void stopPlayback()
{
  TIMSK1 &= ~_BV(OCIE1A);
  TCCR1B &= ~_BV(CS10);
  OCR1A = 128;
  OCR1B = 128;

  fileSuara.close();
  digitalWrite(pinSpeakerA, LOW);
  digitalWrite(pinSpeakerB, LOW);

  suaraDimainkan = false;
}



contoh file .wav mono 16kHz 8 bit:
pulang.wav